Pages

Tampilkan postingan dengan label Tips N Trick. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips N Trick. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Januari 2011

Ilmu Pengetahuan - Rabdomiosarkoma

RABDOMIOSARKOMA

Setelah membaca buku surat kecil untuk tuhan, yang mengisahkan tentang seorang anak gadis remaja bernama keke yang mengharukan karena keke terkena penyakit rabdomiosarkoma atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan nama kanker jaringan lunak. Berdasarkan dari pada itu untuk lebih mengenal penyakit mematikan tersebut saya tertarik untuk menggangkat tema penyakit ini di dalam tulisan sederhana saya ini.

Definisi dari penyakit rabdomiosarkoma tersebut adalah sebagai berikut Rabdomiosarkoma (RMS) kata ini berasal dari bahasa Yunani, (rhabdo yang artinya bentuk lurik, dan myo yang artinya otot). Rabdomiosarkoma merupakan suatu tumor ganas yang aslinya berasal dari jaringan lunak ( soft tissue ) tubuh, termasuk disini adalah jaringan otot, tendon dan connective tissue. Rabdomiosarkoma merupakan keganasan yang sering didapatkan pada anak-anak. Respon pengobatan dan prognosis dari penyakit ini sangat bergantung dari lokasi dan gambaran histologi dari tumor ini sendiri. Sampai saat ini ilmu kedokteran belum juga menemukan asal mula dari penyakit rabdiosarkoma tersebut. Faktor genetic dan lingkungan diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit ini.

Tanda – tanda penyakit rabdio sarcoma ini biasanya seperti sebuah tumor, paling sering di daerah kepala dan leher yang meliputi orbita, nasofaring, sinus, telinga tengah dan kulit kepala, dan dapat dijumpai pula pada saluran urogenital. Lesi pada otak frekuensinya rendah; selain penyebaran hematogen dapat juga perluasan langsung dari kepala dan leher. Walaupun tumor ini dipercaya berasal dari sel otot primitif dari tubuh, tumor ini dapat muncul dimana saja dalam tubuh, terkecuali jaringan tulang. Tumor ini dapat timbul di berbagai bagian tubuh seperti di kepala dan leher (38%), traktus genitourinarius (21%), ekstremitas (18%), tulang belakang (17%) dan retroperitoneum (7%).

ETIOLOGI
Penyebab dari Rabdomiosarkoma sendiri sampai saat ini belum jelas. Beberapa sindroma genetik dan faktor lingkungan dikatakan berkaitan dengan peningkatan prevalensi dari RMS.(1,2,3)
• Beberapa sindroma genetik yang berhubungan dengan angka kejadian RMS :
o Neurofibromatosis (4-5% risk of any of a number of malignancies)
o Li-Fraumeni syndrome (germline mutation of the tumor suppressor gene TP53)
o Rubinstein-Taybi syndrome
o Gorlin basal cell nevus syndrome
o Beckwith-Wiedemann syndrome
o Costello syndrome
• Beberapa faktor lingkungan yang diduga berperan dengan prevalensi RMS :
o Penggunaan orang tua terhadap marijuana dan kokain
o Penyinaran sinar X
o Makanan dan pola makan
o Polusi lingkungan yang mengandung zat-zat karsinogen
o Penggunaan obat-obat sitostatika dalam hal ini obat kemoterapi
o Sering kontak dengan sinar matahari terutama pada anak-anak
o Penggunaan alkohol sebelumnya
o Kontak dengan zat-zat karsinogen di daerah tempat bekerja khususnya pada orang dewasa

GENETIKA
Di dalam inti sel terdapat 23 pasang kromosom berbentuk batang yang diturunkan oleh orang tua kita. Satu perangkat dari ibu dan yang dari ayah. Kromosom-kromosom ini mencakup genom, yaitu seluruh kompleks faktor keturunan yang menentukan hidup kita sejak pembelahan sel pertama hingga nafas terakhir. Kromosom ini terdiri atas dua tali pintalan panjang DNA (Deoksiribonukleat acid) yang bagaikan dua tangga atau tangga spiral yang saling terputar ke dalam dan mengitari satu sama lain yaitu yang lebih dikenal dengan heliks ganda. Setiap tangga terdiri atas bagian- bagian yang dapat dibedakan (nukleotida) yang tersusun atas 4 bagian dari DNA ( Adenin, Guanin, Tiamin, Sitosin) yang membentuk dasar dari gen. Urutan susunan tiga dari 4 nukleotida ini menentukan cara kerja dan funsi gen. Atas kode bergaris- aturan, sel-sel tubuh ini bereaksi dalam hal melakukan atau tidak melakukan sesuatu misalnya memeproduksi suatu hormone untuk mencerna zat dari makanan dll.dengan kata lain genom adalah gabungan semua gen di kromosom.(2,3,4)
Pembelahan sel terdiri atas berbagai fase yaitu inti sel yang sedemikian sibuknya mengatur sehingga akhirnya timbul dua sel baru dengan inti sel identik tepat sama . Pada hakikatnya pembelahan sel adalah pembelahan inti sel. Sesungguhnya sel kanker dalam banyak hal yang berbeda dengan sel sehat. Dasar perubahan kearah keganasan terletak pada mutasi (perubahan). Mutasi sering disebut defek pada struktur DNA di dalam suatu gen. Secara normal, pembelahan sel dilakukan dalam batas-batas yang diperlukan oleh gen sehingga membelah tidak terlalu sering dan tidak terlalu jarang; tidak dipacu terlalu banyak dan tidak dihambat terlalu banyak.(1,2)

HISTOPATOLOGI RABDOMIOSARKOMA
Tumor ini dapat muncul dimanapun. Pada 30 persen kasus paling sering muncul di daerah kepala-leher; lalu dalam insidensinya, menyusul lengan dan tungkai, saluran kemih dan organ-organ kelamin serta akhirnya tubuh (10%). Penyebaranya secara lifogen dan hematogen(2,3,4,6,8,9)
Secara histologik tumor ini memiliki 5 kategori utama, yaitu : (2,3,4)
1. Embrional : Jenis ini merupakan jenis yang tersering didapati pada anak-anak didapati >60% kasus. Tumor bisa tumbuh dimana saja, tetapitempat yang paling sering terkena adalah pada bagian genitourinaria atau pada bagian kepala dan leher.
2. Alveolar : Tumor jenis ini kurang lebih 31% dari semua kasus Rabdomiosarkoma. Tumor ini banyak didapati pada orang dewasa dan tumbuh pada bagian ekstremitas, perianal dan atau perirektal.
3. Botryoid embrional : Terdapat 6% dari seluuruh kasus dari Rabdomiosarkoma.Tipe ini khas muncul di atas permukaan mukosa mulut, dengan bentuk tumor seperti polipoid dan seperti buah anggur.
4. Sel Spindel Rabdomiosarkoma : Tumor ini terdapat kurang lebih 3% dari semua kasus Rabdomiosarkoma, dan memiliki pola pertumbuhan yang fasikuler, spindle, dan leimimatous. Jenis ini jarang muncul didaerah kepala dan leher, dan sering muncul didaerah paratestikuler.
5. Anaplastik Rabdomiosarkoma : Dulunya jenis ini dikenal dengan nama Pleomorfik Rabdomiosarkoma, tumor ini adalah tumor yang paling jarang terjadi, paling sering diderita oleh pasien berusia 30-50 tahun.

MANIFESASI KLINIK
Terdapat berbagai macam manifestasi klinik pada RMS, perlu disadari bahwa penderita RMS terutama anak-anak mungkin mendapat gejala-gejala yang berbeda satu dengan yang lain tergantung dari lokasi tumor itu sendiri. Gejala sering kali tidak muncul sebelum tumor mencapai ukuran yang besar, teristimewa jika tumor terletak pada jaringan otot yang dalam pada perut. Ini adalah manifestasi klinik yang paling sering terjadi pada RMS.(3,4,5)
• Massa dari RMS yang dapat dilihat dan dirasakan, bisa dirasakan nyeri maupun tidak.
• Perdarahan pada hidung, vagina, rectum, atau mulut dapat terjadi jika tumor terletak pada area ini.
• Rasa geli, nyeri serta pergerakan dapat terjadi jika tumor menekan saraf pada area yang terkena.
• Penonjolan serta kelopak mata yang layu, dapat mengindikasikan suatu tumor dibelakang area ini.

PEMERIKSAAN PENUNJANG : (5,6,7,8,9)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
• Pada pemeriksaan darah : Dapat dijumpai anemia, hal ini dapat diakibatkan adanya suatu proses inflamasi, atau pansitopenia dapat terlihat pada bone marrow.
• Tes fungsi hati, termasuk pemeriksaan LDH, AST, ALT, alkalin fosfatase, dan level bilirubin. Suatu proses metastase pada hati dapat membuat perubahan pada jumlah dari protein-protein tersebut. Tes fungsi hati juga perlu dilakukan sebelum memulai kemoterapi.
• Tes fungsi ginjal, termasuk pemeriksaan pada BUN dan kreatinin : Fungsi ginjal juga harus diperiksa sebelum dilakukan kemoterapi.
• Urinalisis (UA) : Terdapatnya hematuria dapat mengindikasikan terlibatnya GU tract dalam proses metastase tumor.
• Elektrolit dan kimia darah : perlu dilakukan pengecekan terhadap sodium, potassium, klorida, karbon dioksida, kalsium, fosfor, dan albumin.
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
• MRI : MRI meningkatkan kejelasan jika terdapat invasi tumor pada organ-organ tubuh. Terutama pada orbita, paraspinal, bagian parameningeal
• CT-Scan : CT-Scan pada dada perlu dilakukan sebagai evaluasi apakah terdapat metastase pada paru-paru. CT-Scan dada baik dilakukan sebelum dilakukan operasi untuk menghindari kesalaham dimana atelektasis dapat disangka sebagai proses meastase. CT juga dapat membantu dalam mengevaluasi tulang, apakah terdapat erosi tulang dan untuk follow up terhadap respon dari terapi. CT pada hati dengan tumor primer pada bagian abdomen atau pelvis sangat membantu untuk mengetahui jika adanya metastase.

• Pada foto polos : foto pada dada sangat membantu untuk mengetahui adanya kalsifikasi dan keterlibatan tulang dalam pada tumor primer dan untuk mengetahui apakah terdapat metastase pada paru-paru.
• Bone scanning : Untuk mencari jika terdapat metastase pada tulang.
• USG : Untuk memperoleh gambaran sonogram dari hati pada pasien dengan tumor primer pada abdomen dan pelvis.
DIAGNOSA
Diagnosa dari RMS selain dari gejala-gejala klinik yang Nampak jelas, diperlukan pemeriksaan penunjang berupa : (7,10,11,12)
• Biopsi tumor.
• Pemeriksaan darah dan urine.
• Pemeriksaan Radiologis : CT-Scan, MRI, USG, Bone Scans
• Lumbal punksi.
• Aspirasi sumsum tulang.
Diagnosis juga sudah harus menyangkut staging dan klasifikasi dari tumor, yang sangat berguna dalam penentuan terapi pada penderita. Staging adalah proses untuk menentukan sampai dimana kanker telah menyebar, dan jika sudah menyebar, sampai dimana penyebaran telah terjadi. Terdapat berbagai macam jenis pada sistem staging yang digunakan pada Rabdomiosarkoma. Salah satu metode yang digunakan dalam penentuan staging yaitu metode TNM, yaitu sistem yang menggunakan tumor (T), nodes (N), and meastase (M) untuk membedakan penyakit ini menurut tingkatannya (staging).
Berdasarkan system TNM diadopsi oleh IUCC (Internatiole Union Contre le Cancer) dan AJNC 2002 adalah
a) Tumor menandakan ukuran tumornya.
- T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer
- T1 : Ukurannya kurang dari 5 cm
T1a : Tumor superfisial
T1b : Tumor yang dalam
- T2 : Ukurannya lebih dari 5 cm atau lebih
T2a : Tumor superfisial
T2b : Tumor yang dalam
b) Node mengenai kelenjar limfe regional
- N0 : Tidak terbukti ada penyebaran ke kelenjar limfe regional
- N1 : Penyebarannya ke kelenjar limfe regional
c) Metastasis adanya metastasis tumor
- M0 : Tidak terbukti adanya metastasis tumor
- M1 : Adanya metastasis jauh

d) G – Histopatologik
Tingkat rendah
Tingkat tinggi

Stadium (TNM System 6th edition, 2002)
Stage IA Rendah T1a N0 M0
Rendah T1b N0 M0
Stage IB Rendah T2a N0 M0
Rendah T2b N0 M0
Stage IIA Tinggi T1a N0 M0
Tinggi T1b N0 M0
Stage IIB Tinggi T2a N0 M0
Stage III Tinggi T2b N0 M0
Stage IV Semua Semua T N1 M0
Semua Semua T Semua N M1
Sistem ini digunakan untuk evaluasi sebelum dilakukan operasi. Terdapat 4 tingkatan pada sistem ini, yaitu : (8,9,10,12)
• stadium I – tumornya melibatkan daerah dekat mata, kepala, leher, dan traktus genitor urinaria (kecuali prostate dan kandung kemih).Dengan kata lain tumornya tidak menyebar di tempat lain atau hanya terlokalisir.
• stadium II - kecil, tumornya kurang dari 5 cm, lokasinya di beberapa tempat tidak seperti stage 1. Sel tumor tidak terdapat di kelenjar limfe.
• stadium III – lokasi tumor di beberapa tempat, ukurannya lebih besar dari 5 cm dan menyebar mengenai kelenjar limfe.
• stadium IV – Tumornya menyebar ke daerah lain tubuh.
Beberapa sistem yang juga digunakan dalam penentuan staging dari Rabdomiosarkoma adalah : (7,9,10,11)
• (Grup I – III adlah untuk lokalisasi penyakit)
o Grup I - Tumor terbatas di tempatnya
o Grup II – Tumor residual miksoskopik, melibatkan kelenjar regional atau keduanya
o Grup III – Tumor residual makroskopik
o Grup IV – Metastasis ke tempat yang jauh
• Sistem stadium RMS
o Stadium 1 – Orbita, kepala, dan leher ( bukan parameningeal) terlibat, dan melibatkan juga traktus genitourinaria (kecuali kandung kemih dan prostat)
o Stadium 2 – lokasi lain, N0 or NX
o Stadium 3 – lokasi yang lain, N1 if the tumor is <5> 5 cm
o Stadium 4 – Metastasis jauh
• Pasien dengan resiko rendah dengan diikuti dengan histology embrional:
o Stadium 1-3 in grups I-II ( atau III hanya untuk keterlibatan orbital)
o Stadium 1 in grup III
• Pasien dengan resiko sedang dengan diikuti histology embrional:
o Stadium 2-3 dalam klinikal grupIII (Terlibat selain orbital)
o Stadium 4 dalam klinikal grup IV jika pasien lebih muda 14 tahun
DIFERENSIAL DIAGNOSIS (8.9,10,11)
• Acute Lymphoblastic Leukemia
• Acute Myelocytic Leukemia
• Ewing Sarcoma
• Gorlin Syndrome
• Li-Fraumeni Syndrome
• Liposarcoma
• Lymphadenopathy
• Neuroblastoma
• Osteosarcoma
• Wilms Tumor

TERAPI
Terapi pada penderita RMS melibatkan kombinasi dari operasi, kemoterapi, dan terapi radiasi. Karena pengobatan yang akan dijalani kompleks dan lama, terlebih khusus pada anak-anak banyak hal yang perlu diperhatikan, maka pasien yang akan menjalani pengobatan, perlu dirujuk ke pusat-pusat kanker yang lengkap terlebih khusus buat anak-anak. Rabdomiosarkoma yang terdapat pada lengan atau kaki dipertimbangkan untuk diamputasi. Setelah terapi dilaksanakan seorang penderita tetap harus dipantau untuk melihat apakah tumor tersebut telah hilang atau tetap ada, dalam hal ini digunaka pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan, bone-scans, x-rays. (8,9,10)
Terapi Operatif
Terapi operatif pada penderita RMS bervariasi, bergantung dari lokasi dari tumor itu. Jika memungkinkan dilakukan operasi pengangkatan tumor tanpa menyebabkan kegagalan fungsi dari tempat lokasi tumor. Walaupun terdapat metastase dari RMS, pengangkatan tumor primer haruslah dilakukan, jika hal itu memungkinkan.(7,8,9)
Terapi Medikamentosa
Terapi ini dimaksudkan untuk membunuh sel-sel tumor melalui obat-obatan. Kemoterapi kanker adalah berdasarkan dari pemahaman terhadap bagaimana sel tumor berreplikasi/bertumbuh, dan bagaimana obat-obatan ini mempengaruhinya. Setelah sel membelah, sel memasuki periode pertumbuhan (G1), diikuti oleh sintesis DNA (fase S). Fase berikutnya adalah fase premiosis (G2) dan akhirnya tiba pada fase miosis sel (fase M). Obat-obat anti neoplasma bekerja dengan menghambat proses ini. Beberapa obat spesifik pada tahap pembelahan sel ada juga beberapa yang tidak.(12,13,14,15)

PROGNOSIS
Prognosis dari penyakit RMS bergantung pada : (16,17,18,19)
• Staging dari penyakit
• Lokasi serta besar dari tumor.
• Ada atau tidaknya metastase.
• Respon tumor terhadap terapi.
• Umur serta kondisi kesehatan dari penderita.
• Toleransi penderita terhadap pengobatan, prosedur terapi.
• Penemuan pengobatan yang terbaru.
Pada pasien dengan RMS yang terlokalisasi, dapat mencapai angka harapan hidup 5 tahun >80% dengan kombinasi dari operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi. Pada pasien dengan tumor yang telah bermetastase, telah terjadi peningkatan serta perkembangan yang baik dalam hal angka harapan hidup 5 tahun, dimana telah mencapai <30%>

Itulah sekilas pengetahuan tentang penyakit kanker jaringan lunak atau rabdomiosarkoma. Mulai dari tanda – tanda awal, penyebaran penyakit hingga Terapi yang bisa digunakan oleh para penderita untuk bisa bangkit dan sembuh dari penyakit tersebut sudah saya sisipkan informasinya di artikel ini, semoga dapat membantu para teman – teman pembaca sekalian yang ingin tahu atas penyakit ini.

Sumber : http://www.irwanashari.com/2010/03/rabdomiosarkoma.html


Selengkapnya...

Selasa, 28 Desember 2010

Ilmu Pengetahuan - Ada Apa Dengan Sistem Operasi

ADA APA DENGAN SISTEM OPERASI?

Assalamualaikum Wr.Wb

Teman – teman yang berbahagia aku ingin berbagi informasi nih tentang Operating System (Sistem Operasi) dengan kalian, mungkin kalian tidak asing lagi bila mendengar kata system operasi, ya karena system operasi adalah hal penting dari sebuah computer, tanpa system operasi mustahil sebuah computer dapat bekerja meskipun mempunyai spesifikasi / penyusun yang super sekalipun.

Setelah mengikuti kuliah umum tentang trend system operasi masa kini, pada hari kamis 23 Desember yang lalu aku mendapat banyak pengetahuan tentang system operasi ini. Aku mulai dari pengertian system operasi sendiri itu apa ya? Menurut sumber yang aku lihat dan aku baca system operasi adalah seperangkat program yang memantau dan mengatur pemakaian sumber daya computer, Seperti processor, dan alat input output. Lalu definisi system operasi yang kedua adalah sebuah software layer yang memfasilitasi semua software utility dan aplikasi (menjembatani atau sebagai penghubung antara user (program user) dengan perangkat keras computer. Contoh dari Program aplikasi dan program utility yaitu office, games, dsb. Contoh program system yaitu Sistem Operasi (Machine Languange) dan Hardware yaitu Micro programming (perangkat fisik). Disini system operasi berperan sebagai penghubung antara program aplikasi dan perangkat keras dengan system operasi sebagai penterjemahnya.

Setelah kita semua mengetahui definisi dari system operasi aku ingin memberikan sedikit informasi tentang Fungsi system operasi, Fungsi Sistem Operasi diantaranya yaitu :

1. Sebagai Extended Machine

2. Menyembunyikan Kompleksitas pemograman hardware dari programmer / user

3. Menyajikan Fasilitas yang lebih mudah dan sederhana untuk menggunakan hardware.

4. Sebagai service provider : menyediakan layanan standar, contohnya File system, Standard Libraries, Windowing System, dan User Interface.

5. Sebagai coordinator tiga aspek : Sumber daya Manager (Resource Manager), Security, dan Communication. Resource Manager, yaitu mengatur dan mengefisienkan penggunaaan sumber daya computer, memantau penggunaan semua resources, mengalokasikan resources yang diminta, dan mengambil kembali resources. Security adalah kemampuan system operasi untuk mencegah job dari gangguan atau interfensi satu sama lain. Dan yang terakhir Communication adalah kemampuan system operasi untuk mempersiapkan job agar dapat berinteraksi satu sama lain.

Pengetahuan yang aku dapat berikutnya adalah tentang sejarah dari system operasi sendiri. Apakah kalian tahu teman – teman bahwa sejarah system operasi sendiri sangat berkaitan erat dengan perkembangan computer sendiri, dari mulai computer generasi pertama yang tidak memakai system operasi sampai computer generasi ke lima yang sudah seperti sekarang.

Komputer Generasi Pertama (1945 – 1955) : Komponennya merupakan Vacum tubes, dan plugboards. Analytical Engine (Charles Babbage), Calculating Engine Use Vacum Tubes (Howard Aitken, John Von Neuman, J.P Eckert, dan Konrad Zuse), Belum mempunyai system operasi, dan bahasa pemograman, dan operasi use plugboard (Data dan Proses pada Punched Card).

Komputer Generasi ke dua (1955 – 1965) : komponen penyusunnya yaitu transistor, dan sudah dilengkapi oleh batch system. Adanya Pengenalan Job (Program atau seperangkat program), Sudah menggunakan bahasa pemograman Fortrand, dan assembler, serta dilengkapi penggunaan batch system dengan system offline.

Komputer Generasi ke tiga (1965 – 1980) : Komponen penyusunnya adalah IC (Integrated Circuit). Dan dilengkapi oleh Multi Programming. Dapat dapat menangani komputasi sains dan komersial, Mulai melakukan pengenalan multi programming dan mulai menerapkan partisi memory dengan job – job yang berbeda pada setiap partisi). Mengenalkan spooling (simultaneous peripheral operation on line) membuat peripheral seolah - olah dapat digunakan bersama – sama sekaligus, dapat diakses secara simultan, yaitu dengan cara menyediakan beberapa partisi memory. Mengenalkan Time Sharing (berbagi waktu) system time sharing pertama.dan mulai mengenalkan system operasi UNIX (Uniplex).

Komputer Generasi ke empat (1980 – 1990) : Komponen penyusunnya adalah LSI, dan VLSI. Pada generasi ini mulai dilakukan pengembangan LSI dan VLSI untuk melahirkan PC dan Workstation pada single computing. Pengembangan OS Risc Processor untuk parallel computing. Dilengkapi oleh Network OS dan Distributed Operating system. Software yang digunakan user friendly, dan memakai 2 operating system yaitu Microsoft Dos (8088, 80286, 80386, 80486) untuk processor Intel dan OS UNIX untuk processor Non Intel.

Komputer Generasi Ke lima (1990 – Sekarang) : Komponen penyusunnya VLSI, ULSI, dan mulai menerapkan teknologi nanosecond, serta aplikasi berbasis web dan multimedia. Pengembangan VLSI dan ULSI untuk PC berkecepatan tinggi untuk server, desktop, maupun workstation. Pengembangan system operasi dengan mnggunakan teknologi GUI (Grafik User Interface). Pengembangan Aplikasi Multimedia dan aplikasi berbasis internet. Mulai dilakukan pengembangan teknologi I/O untuk memudahkan interaksi manusia dan computer. Pengenalan Teknologi Mobile Computing, Mulai melakukan pengembangan Real Time Operating System pada PC dan Laptop, Server, Smartphone (mobile) dan tablet, serta pada super computer dan mainframe.

Lalu pengetahuan tentang system operasi yang aku dapat berikutnya adalah tentang Konsep dari system operasi itu sendiri. Konsep System operasi diantaranya :

1. Adanya Proses atau Job

Proses adalah program yang sedang di eksekusi. Contohnya : Executable Program.

2. Adanya System Call

a. Lebih dikenal dengan istilah API (Aplication Programming Interface)

b. System call adalah tata cara pemanggilan di program aplikasiuntuk memperoleh layanan system operasi.

c. System Call berupa program rutin dari system operasi itu sendiri.

3. Penanganan File (Berkas)

a. Identifikasi patch name dan working directory atau folder dari struktur berkas.

b. Mempunyai status RWT (Read, Write, dan Execute) bits protection program.

c. Memiliki File Descriptor : Status permission yang fungsinya untuk memproses file.

4. Shell (Prompt – command interpreter)

5. DeadLock (Untuk mengunci system operasi dari gangguan luar ataupun dalam).

Dan pengetahuan terakhir yang aku dapat dari kuliah umum yang berlangsung hingga pukul 16.00 tersebut adalah tentang struktur penyusun Sistem operasi.

Struktur Penyusun Sistem Operasi diantaranya :

1. Monolitchic

2. Layer

3. Virtual Machine

4. Micro Kernels (Client – Server)

Tak terasa Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 pada hari kamis 23 Desember kemarin, akhirnya kuliah umum tersebut pun ditutup dengan kalimat hamdalah serta selanjutnya pembagian sertifikat, tidak seperti seminar – seminar yang lainnya pada seminar kali ini aku mendapatkan sertifikat sekaligus seminar tersebut pun langsung disertakan pada student portofolio yang aku punya. Aku sangat bahagia mengikuti kuliah umum tersebut selain mendapatkan sertifikat aku pun banyak mendapatkan pengetahuan baru tentang system operasi. Sudah dulu yah tulisan ku hari ini, semoga pengetahuan yang aku terima, dapat menambah ilmu pengetahuan teman – teman juga yah. Akhir kata Assalamualaikum Wr.Wb.

Nama : Tatang Fanji Permana

NPM : 16110827

Kelas : 1KA25

Selengkapnya...

Jumat, 24 Desember 2010

ILMU PENGETAHUAN - Pencemaran Air OLeh Limbah B3 (Oli) di Perairan Tanjungancang Kepulauan Riau

PENCEMARAN AIR OLEH LIMBAH B3 (OLI) DI PERAIRAN TANJUNGANCANG KEPULAUAN RIAU

BAB I

PENDAHULUAN

Pencemaran lingkungan di Indonesia akhir – akhir ini sudah sangat memprihatinkan, dilihat dari pengertian atau definisinya pencemaran menurut Undang – Undang nomor 23 tahun 1997, pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.

Dari definisinya yang menurut undang – undang tersebut pencemaran masih dapat disederhanakan kembali dengan melihat adanya tiga unsur dalam masalah pencemaran yaitu sumber perubahan akibat kegiatan manusia atau proses alam, bentuk perubahannya adalah berubahnya konsentrasi suatu bahan dalam lingkungan dan merosotnya fungsi lingkungan untuk menunjang kehidupan.

Pencemaran sering pula diklasifikasikan dalam bermacam-macam bentuk pola pengelompokannya. Pengelompokan menurut jenis bahan pencemar menghasilkan pencemaran biologis, kimiawi, fisik dan budaya. Pengelompokan menurut medium lingkungannya dapat menghasilkan pencemaran udara, air, tanah, makanan dan sosial sedangkan pengelompokan menurut sifat sumber bisa menghasilkan pencemaran primer dan pencemaran sekunder.

Dari pengelompokan berbagai macam pencemaran tersebut, pencemaran lingkungan yang banyak terjadi di Indonesia adalah pencemaran udara yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor, dan kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan. Pencemaran air yang banyak disebabkan oleh kebocoran dan pembuangan bahan kimia ke dalam sumber air, dan disebabkan juga oleh ulah para manusia yang kurang peka akan kondisi lingkungannya yang sudah semakin rusak ini. Tetapi di dalam tugas paper ini saya hanya akan khusus membahas tentang pencemaran air yang cukup banyak terjadi juga di Negara Indonesia ini.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Disini saya akan lebih membahas tentang Pencemaran air, kita sama – sama tahu bahwa air adalah sesuatu kebutuhan yang sangat penting bagi umat manusia. Dilihat dari definisinya pencemaran lingkungan yaitu masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan. Demikian pula dengan lingkungan air yang dapat pula tercemar karena masuknya atau dimasukannya mahluk hidup atau zat yang membahayakan bagi kesehatan. Air dapat dikatakan tercemar apabila kualitasnya turun hingga ketingkat yang membahayakan sehingga tidak layak lagi digunakan sebagaimana fungsinya, serta tidak layak digunakan oleh manusia di dalam kehidupan sehari – hari.

Berdasarkan PP no 82 tahun 2001 pasal 8 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, klasifikasi dan kriteria mutu air ditetapkan menjadi 4 kelas yaitu:

Kelas 1 : yaitu air yang dapat digunakan untuk bahan baku air minum atau peruntukan lainnya mempersyaratkan mutu air yang sama

Kelas 2 : air yang dapat digunakan untuk prasarana/ sarana rekreasi air, budidaya ikan air tawar, peternakan, dan pertanian

Kelas 3 : air yang dapat digunakan untuk budidaya ikan air tawar, peternakan dan pertanian

Kelas 4 : air yang dapat digunakan untuk mengairi pertanaman/ pertanian

Beberapa parameter yang digunakan untuk menentukan kualitas air diantaranya adalah :


-

DO (Dissolved Oxygen)


-

BOD (Biochemical Oxygen Demand)


-

COD (Chemical Oxygen Demad), dan


-

Jumlah total Zat terlarut

Parameter pertama yang digunakan untuk menentukan kualitas air, yaitu

1. DO (Dissolved Oxygen) / (Oxygen Terlarut)

Yang dimaksud adalah kandungan oksigen yang terlarut di dalam air baik dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Tentu saja air dengan oksigen yang terkandung di dalamnya adalah air yang kualitasnya baik karena semua makhluk hidup yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang, dan hewan – hewan lainnya serta mikroorganisme seperti bakteri, dan sebagainya.

Agar makhluk hidup di air dapat hidup, minimal kandungan oksigen di dalam air tersebut adalah paling sedikit 5mg/L atau 5 ppm (Part Per Milion). Jika kandungan oksigen di air kurang dari 5 ppm, ikan akan mengalami gangguan pernafasan dan akhirnya mati, tetapi bakteri yang kebutuhan jumlah oksigen terlarutnya kurang dari 5 ppm akan terus berkembang.

2. BOD (BioChemical Oxygen Demand)

BOD atau (BioChemical Oxygen Demand) artinya kebutuhan jumlah oksigen biokimia yang menunjukkan jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi reduksi – oksidasi (Redoks) oleh bakteri. Maksudnya air yang mengandung semakin banyak bahan organik di dalamnya, semakin besar B.O.D nya dan kandungan oksigen terlarut di dalam air tersebut akan semakin kecil. Air bersih / air yang layak dikonsumsi adalah air yang kandungan B.O.D nya kurang dari 1 mg/L atau 1 ppm, jika kandungan B.O.D sebuah mata air sudah lebih besar dari 4 ppm, maka mata air tersebut sudah bisa dikatakan sebagai mata air tercemar.

3. COD (Chemical Oxygen Demand)

COD (Chemical Oxygen Demand) secara garis besar sama dengan BOD (Biochemical Oxygen Demand) yaitu yang menunjukkan jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi kimia oleh bakteri. Pengukuran COD pada air limbah memiliki beberapa keunggulan dibaningkan dengan pengujian BOD.

Keunggulannya antara lain :

Sanggup menguji air limbah beracun yang tidak dapat diuji dengan BOD karena bakteri akan mati.

Waktu pengujiannya lebih singkat, kurang lebih hanya 3 jam.

4. Zat Padat Terlarut

Air alam mengandung zat padat terlarut yang berasal dari mineral dan garam-garam yang terlarut ketika air mengalir di bawah atau di permukaan tanah. Apabila air dicemari oleh limbah yang berasal dari industri pertambangan dan pertanian, kandungan zat padat tersebut akan meningkat. Jumlah zat padat terlarut ini dapat digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran air. Selain jumlah, jenis zat pencemar juga menentukan tingkat pencemaran. Air yang bersih adalah jika tingkat D.O nya tinggi, sedangkan B.O.D dan zat padat terlarutnya rendah.

Berdasarkan judul yang saya ambil dalam paper kimia ini, yaitu Pencemaran Air Laut Di Tanjunguncang akibat tumpahan limbah oli PT Drydoks Pertama.

Saya pun akan membahas pula jenis limbah B3, karena oli adalah merupakan contoh dari limbah B3, jadi tidak lengkap rasanya bila saya tidak membahas tentang limbah B3 pada paper ini.

B3 merupakan ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup, sehingga memerlukan penanganan dan teknik khusus untuk mengurangi atau menghilangkan bahayanya.

B3 ini tidak dapat dikelola seperti mengelola sampah kota yang biasanya menggunakan kendaraan sampah, tempat pembuangan akhir atau pembakaran dengan alat pembakar sampah kota, hal ini disebabkan:

1. B3 mengandung zat beracun yang apabila tercuci dapat mencemarkan air permukaan dan air tanah disekitar tempat penanamannya yang akibatnya dapat menimbulkan penyakit dan dapat meracuni masyarakat yang menggunakan air tersebut.

2. B3 dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan baik dalam pengangkutan sampah maupun dilokasi pembuangan akhir.

3. B3 dapat membakar kulit jika tidak ditangani dengan hati-hati dan aman.

4. B3 dapat menghasilkan gas beracun yang dapat terhirup oleh masyarakat yang bermukim dis sekitar lokasi pembuangan akhir.

5. B3 dapat menimbulkan penyakit yang ditularkan antara petugas dan masyarakat yang bermukim disekitarnya.

Di atas telah saya jelaskan dampak yang dapat ditimbulkan oleh limbah B3, dan dari situ sama – sama telah kita ketahui bahwa limbah B3, sangat berbahaya bagi masyarakat luas bila tercampur dengan air. Di Bab selanjutnya saya akan memberikan contoh kasus pencemaran Limbah B3 (Tumpahan Oli) Yang pernah terjadi di Indonesia.

BAB III

STUDI KASUS

Tumpahan Oli PT Drydoks Pertama di Tanjungancang

Pada hari Selasa tanggal 13 Oktober 2009, berton – ton limbah B3 (Oli) milik PT Drydoks Pertama terjadi di perairan Tanjungguncang, Kepulauan Riau. Akibat tumpahnya limbah B3 (Oli) tersebut mencemari perairan Tanjunguncang tersebut. Peristiwa itu berawal dari meledaknya tangki penyimpanan oli bekas milik PT Drydoks Pertama tersebut, Perusahaan tersebut diduga lalai dalam mengawasi pengelolaan Limbah sehingga peristiwa itu dapat terrjadi. Pihak Bapedalda Pemerintah Kota (Pemko) Batam langsung mengambil sampel limbah untuk dilakukan diuji laboratorim. Selain itu, pihak kepolisian dan KPLP juga turun ke lokasi.

Manager PT Drydocks Pratama, Suryono, kepada wartawan mengatakan, terjadinya tumpahan oli karena adanya kemiringan tempat penampungan sehingga oli sempat tumpah ke laut. Pihak perusahaan juga melakukan tindakan pencegahan untuk menjamin agar tumpahan oli tidak sampai mencemari laut dan membahayakan warga. Tindakan pencegahan yang dilakukan diantaranya adalah dengan memasang beberapa pelampung agar oli tidak menyebar dan menggunakan cairan kimia untuk memisahkan oli dengan air laut.

Tumpahan limbah berbahaya dari PT Drydocks Pertama Tanjunguncang kontan mendapat keluhan dari masyarakat setempat. Mereka menyayangkan keteledoran perusahaan membuat peraiaran tempat mereka menangkap ikan tercemar. Dampak tumpahan berton-ton oli bekas itu dirasakan nelayan Pulau Bertam, Pulau Lingka, Pulau Gara dan Pulau Seraya. Limbah sempat menyebar ke perairan pulau tersebut.

Nelayan sangat merasakan hasil tangakapan ikan bilis. Padahal setiap bulan Oktober, November dan Desember, adalah waktu keluarnya ikan bilis. Ada sekitar 300 nelayan yang menggantungkan hidup menangkap ikan bilis. Biasanya, setiap hari nelayan bisa menangkap ikan bilis dengan jumlah yang cukup lumayan hingga Rp 5 juta sekali turun ke laut. Namun dua hari belakangan nelayan hanya dapat hasil tangkapan senilai Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu sekali turun ke laut.

Kasat II Ditreskim Polda Kepulauan Riau menyatakan tidak ada faktor kesengajaan dalam peristiwa tumpahnya limbah berbahaya tersebut. Peristiwa ini terjadi murni karena tiang tangki tidak mampu lagi menyangga beban limbah oli bekas yang disimpan di dalamnya.

Selain merugikan para nelayan, akiba kelalaian perusahaan tersebut terhadap pengelolaan Limbah B3 dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan biota air. Karena limbah B3 (Oli) mempunyai sifat yang beracun, Hal ini berdampak buruk bagi lingkungan perairan dan biota air yang telah ketumpahan oli bekas tersebut. Selain merugikan para nelayan, limbah tersebut membahayakan bagi masyarakat sekitar. Jika Ikan hasil tangkapan dari perairan yang tercemar limbah B3 (Oli) tersebut itu dikonsumsi oleh manusia, dikhawatirkan akan timbul bahaya bagim kesehatan, seperti gangguan saluran pernafasan, rasa ,mual, muntah, sakit kepala, iritasi mata, gangguan jantung, hati, ginjal, dsb.

Selengkapnya...